Just another WordPress.com site

Archive for the ‘AUDIT- SEM 3’ Category

“RISIKO DETEKSI & PERENCANGAN PENGUJIAN SUBSTANTIF ”

AUDIT BAB 11 :

“RISIKO DETEKSI & PERENCANGAN PENGUJIAN SUBSTANTIF ”

  1. Mengevaluasi tingkat pengujian substansi yang direncanakan untuk setiap asersi Lap.keu yang signifikan, auditor akan mempertimbangkan bukti yang diperoleh. Auditor membandingkan tingkat aktual / final tentang keyakinan yang diperoleh dari prosedur tersebut dengan penilaian tingkat risiko bawaan yang direcanakan, risiko prosedur analitis dan risiko pengendalian.
  2. Merevisi Risiko deteksi yang direncanakan. Jika penilaian risiko tidak dikuantifikasi, risiko deteksi yang direvisi ditentukan dengan pertimbangan (judgment) / dengan penambahan matriks risiko.
  3. Perancangan Pengujian Subtantif :

(1)       Sifat : pengujian subtantif mengarah pada jenis & efektivitas prosedur pemeriksaan yang dilakukan dan sebaliknya. Jika tingkat risiko deteksi yang dapat diterima tinggi, prosedur yang kurang & efektif dan murah dapat dilakukan,@ 4 jenis pengujian substantif : proseudr analitis, pengujian rincian transaksi, pengujian rincian atas saldo, & pengujian estimasi-estimasi akuntansi,

(2)       Waktu : Tingkat risiko audit dapat diterima dipengaruhi penentuan waktu pengujian substantif,jika risiko deteksi tinggi,pengujian dapat dilakukan beberapa bulan sebelum akhir tahun,sebaliknya,jiak risiko deteksi untuk suatu asersi rendah, pengujian substantif dilakukan pada/ mendekati tanggal akun.

(3)       Luas : auditor dapat mengubah jumlah bukti yang diperoleh dengan mengubah luas pengujian substantif yang dilakukan untuk meratakan jumlah item / sampel dimana pengujian substantif / prosedur tertentu diterapkan,

(4)       Pemilihan staff  : pengujian substantif harus ditugaskan kepada personil dengan keahlian, kemampuan, & pengalamanyang cukup.

  1. Penggunaan teknologi informasi untuk mendukung pengujian substantif. Auditor dapat menggunakan paket perangkat lunak audit untuk membuat audit lebih efektif & efisien.
  2. Hubungan antara asersi, tujuan audit khusus, dan pengujian substantif adalah tujuan menyeluruh audit laporan keuangan adalah menyatakan pendapat apakah Lap keu klien disajikan secara wajar dengan mengembangkan sejumlah tujuan audit khusus setiap akun berdasarkan 5 asersi laporan keuangan yang dapat menentukan apakah pengujian telah diidentifikasi untuk mencapai tujuan audit khusus yang ada dalam setiap asersi.
  3. Program audit ilustratif untuk pengujian substantif : untuk mengilustrasikan format program audit untuk pengujian substantif dan bagaimana pengembangannya. Keputusan auditor mengenai rancangan pengujian substantif diperlukan untuk pendokumentasian pada kertas kerja dalam bentuk program audit tertulis.

Program audit : daftar prosedur audit yang akan dilakukan.

  1. Kerangka Kerja Umum pengembangan program audit untuk pengujian substantif adalah program audit dalam perikatan awal & program audit dalam perikatan berulang.
  2. Pertimbangan khusus dalam merancang pengujian substantif :

(1) Akun-akun laporan laba-rugi => pendekatan L/R lebih efisien dan logis karena setiap akun lap L/R berkaitan dengan satu / lebih akun-akun neraca.

(2) prosedur analitis untuk akun-akun lap L/R=> pengujian langsung terjadi ketika akun pendapatan dan biaya dibandingkan dengan relevan lainnya untuk menentukan kewajaran saldo tersebut,

(3) Pengujian rinci atas akun-akun Lap L/R => pengujian rinci dapat terjadi karena : risiko bawaan tinggi, risiko pengendalian tinggi, prosedur analitis menemukan adanya fluktuasi hubungan yang tidak biasa dan tidak diharapkan, akun memerlukan analisis.

(4) Akun-akun yang ada dalam transaksi puhak yang mempunyai hubungan istemewa.

  1. Perbandingan pengujian pengendalian & pengujian  substantif :
  • prosedur audit yang dipakai (1) pengendalian: dengan pengajuan pertanyaan , observasi, inspeksi, pelaksanaan kembali pekerjaan, dan teknik audit berbantu komputer. (2) substantif : sama dengan pengujian pengendalian ditambah prosedur analitis, perhitungan, konfirmasi, penelusuran, dan pemeriksaan.

“MENILAI RISKO PENGENDALIAN / PENGUJIAN PENGENDALIAN”

AUDIT BAB 10: “MENILAI RISKO PENGENDALIAN / PENGUJIAN PENGENDALIAN”

  1. Langkah-langkah dalam menilai risiko pengendalian untuk asersi kelas transaksi:

(1) Mempertimbangkan pengetahuan yang diperoleh dari prosedur untuk memperoleh suatu pemahaman,

(2) Mengidentifikasi salah saji potensial,

(3) Mengidentifikasi pengendalian yang diperlukan,

(4) Melaksanakan pengujian pengendalian,

(5) Mengevaluasi bukti dan membuat penilaian.

  1. 2.       Stategi untuk melaksanakan pengujian pengendalian;

(1) Menilai risiko pengedalian berdasarkan pengendalian pemakai =>merancang prosedur manual untuk menguji kelengkapan dan keakuratan dari transaksi yang diproses oleh komputer.

(2) Merencanakan suatu penilaian risiko pengendalian yang rendah berdasarkan pengendalian aplikasi =>menguji pengendalian aplikasi komputer, pengendalian umum komputer, tindak lanjut manual untuk pengecualian yang dicatat oleh pengendalian aplikasi.

(3) Merencanakan suatu penilaian risiko pengendalian yang tinggi berdasarkan pada pengendalian umum dan tindak lanjut manual => Internal Control Audit Guide menyajiakan suatu strategi audit yang memungkinkan auditor untuk menyelesaikan tugas ini berdasarkanbukti mengenai efektivitas pengendalian umum dan prosedur tindak lanjut manual.

  1. Tekinik Audit Berbantu Komputer:

(1) Simulasi Paralel =>memproduksi ulang / mensimulasi pemrosesan data riil klien,

(2) Pendekatan data pengujian => data pengujian terdiri dari satu transaksi untuk setiap kondisi yang valid dan tidak valid yang ingin diuji oleh auditor,

(3) Fasilitas Pengujian Terintegrasi => menciptakan file master buatan/ catatan arsip buatan ke dalam arsip klien yang ada,

(4) Pemantauan yang Berkelanjutan terhadap Sistem OLRT => melakukan pengintegrasian dari perangkat lunakaudit ke dalam sistem pemrosesan OLRT,

(5) Memberi label pada transaksi =>meliputi penempatan suatu indikator, atau label pada transaksi-transaksi tertentu,

(6) Log Audit/sistem pengendalian review arsip audit => mencatat kejadian yang memenuhi kriteria yang ditentukan auditorketika mereka muncul pada titik tetentu dalam sistem,

(7) Menilai pengendalian teknologi inormasi=> untuk memperoleh bukti mengenai efektifitas dari rancangan/ pengoperasian pengendalian.

  1. Penilaian risiko pengendalian => strategi  pendekatan substantif utama(penilaian tingkat risiko pengendalian yang direncanakan pada tingkat maksimum/ tinggi) & pendekatan tingkat risiko pengendalian yang dinilai lebih rendah(merencanakan & melaksanakan pengujian tambahan yang diperlukan untuk memperoleh bukti yguna mendukung penilaian tingkat risiko pengendalian yang direncanakan pada tingkat sedang atau rendah).
  2. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat keyakinan yang diperoleh dari pengujian pengendalian;

(1)   Jenis bukti => pertanyaan,pemeriksaan dokumen/ laporan, pengamatan, pelaksanaanulang dari pengendalian, teknik audit berbantu komputer,

(2)   Sumber bukti => bagaimana auditor memperoleh bukti,

(3)   Ketepatan waktu bukti => kapan bukti diperoleh dan bagian dari periode audit di mana bukti diterapkan,

(4)   Keberadaan bukti lain => bebagai jenis bukti mendukung kesimpulan yang sama mengenai rancangan/ pengoperasian pengedalian,tingkat keyakinan yang disediakan meningkat.

  1. Pengunaan Auidtor internal dalm pengujian pengendalian;=>auditor dapat(1) mengkoordinaskan pekerjaan auditnya dengan auditor internal,(2) menggunakan auditor internal untuk menyediakan bantuan langsung dalam audit.
  2. Pertimbangan tambahan dg;

(1) proses menilai risko pengendalian untuk asersi saldo akun langsung ditujukan kepada akun-akun yang dipengaruhi oleh suatu kelas transaksi tunggal,

(2) menilai risiko pengendalian untuk suatu asersi saldo akun memerlukan pertimbangan atas penilaian risiko pengendalian yang relevan untuk setiap kelas transaksi yang secara signifikan mempengaruhi neraca.

  1. Persyaratan untuk mendokumentasikan penilaian risiko pengendalian;

(a) Risiko pengendalian dinilai pada tingkat maksimun:Hanya kesimpulan ini yang diperlukan untuk didokumentasikan,

(b) Risiko pengendalian dinilai pada tingkat di bawah maksimu: dasar untuk penilaian harus didokumentasikan.

  1. Persyaratan Auditor untuk mengkomunikasikan masalah struktur pengendalian intern:

(1)masalah-masalah yang menarik perhatian auditor dalm pertimbangannya;

(2)rancangan dan pengoperasian dari satu atau lebih komponen pengendalian intern tidak dapat mengurangi tingkat risiko salah saji sampai tingkat rendah karena kekeliruan/kecurangan di mana jumlah yang material yang berhubungan dg lap.keu yang dapt muncul dan tidak dapt didektesi selama satu periode dengan tepat waktu oleh karyawab dalam cara yang normal  untuk melaksanakan fungsi yang ditugaskan kepadanya.

PEMAHAMAN TENTANG PENGENDALIAN INTERN

AUDIT BAB 9 : PEMAHAMAN TENTANG PENGENDALIAN INTERN

1. Pengandalian Intern: suatu prose yang dilakukan oleh dewan direksi, manajemen, dan personel lainnya dalam suatu entitas yang dirancang untuk menyediakan keyakinan yang memadai dengan pencapaian tujuan dalam kategori “keandalan pelaporan keuangan”, “ kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku” dan ”efektifitas dan afisiensi operasi.

2. 5 Komponen  pengendalian Intern :

  • Lingkungan pengendalian (menetapkan suasana suatu oraganisasi yang mempengaruhi kesadaran akan pengendalian dari orang2nya),
  • Penilaian Risiko (pengidentifikasian dan analisi entitas mengenai risiko yang relevan terhadap pencapaian tujuan entitas),
  • Aktivitas Pengendalian(kebijakan dan prosedur yang membantu menyakinkan bahwa perintah manajemen telah dilaksanakan),
  • Pemantauan (proses yang menilai kualitas kinerja pengendalian intern suatu entitas)

3. Keterbatasan Pengendalian Intern suatu entitas:

  • Kesalahan dalam pertimbangan (kadang2 manajemen dan pesonel lainnya dapat melakukan pertimbangan yang buruk dalam pengambilan keputusan bisnis karena informasi yang tidak mencukupi),
  • Kemacetan (terdapat kesalahan pesonel dalam pemahaman intruksi yang akan dilaksanakan mengakibatkan perubahan dan akan terjadi kemacetan ),
  • Penolakan Manajemen (mengesampingkan kebijakan/ proseduruntuk tujuan tidak sah),
  • Biaya Vs Manfaat (biaya pengendalian intern suatu entitas seharusnya tidak melebihi manfaat yang diharapkan untuk diperoleh)

4. Peran dan Tanggung Jawab:

ü  Manajemen > menciptakan pengendalian yang efektif,

ü   Dewan direksi dan komite audit > pengaturan umum dan tanggung jawab  terhadap kekeliruan,

ü  Auditor Internal > memeriksa & mengevaluasi kecukupan pengendalian intern suatu entitas secara periodik dan membuat rekomendasi untuk perbaikan,

ü  Personel entitas lainnya > menyediakan informasi kepada / menggunakan informasi yang ada dan megkomunikasikan masalah2 yang tidak sesuai dengan pengendalian,

ü  Auditor Independen > menemukan kekurangan dalam pengendalian yang akan dikomunikasikan kepada manajemen ,komite audit, dewan direksi bersamaan dengan rekomedasi perbaikan,

ü  Pihak eksternal lainnya > menetapakan persyaratan minimal untukpengadaan pengendalian intern oleh entitas2 tertentu.

5. Lingkungan Pengendalian : menetapkan suasana dari suatu organisasi yang mempengaruhi kesadaran akan pengendalian dari orang2nya dan merupakan pondasi dari semua komponen pengendalian intern lainnya.

6. Faktor yang membentuk lingkungan pengendalian suatu entitas : integritas dan nilai etika, komitmen terhadap kompetensi, dewan direksi dan komite audit, filosofi dan gaya operasi manajemen, struktur organisasi, penetapan wewenang dan tanggungjawab, kebijakan dan pratik sumberdaya manusia.

7. Faktor teknologi informasi yang penting: keterlibatan manajemen dalam menetapkan kebijakan untuk mengembangkan,memodifikasi,dan menggunakn program komputer&data, bentuk struktur organisasi dari pemrosesan data, metode penetapan otorisai&tanggungjawab.

8. Penilaian Risiko : identifikasi, analisi, dan pengelolan risiko suatu entitas yang relevan dengan penyusunan lap.keuangan yang disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku.
Risiko yang dapat muncul dari perubahan kondisi: perubahan dalam lingkungan operasi, personel baru, sistem informasi yang baru/dimodifikasi, pertumbuhan yang cepat, teknologi baru, lini,produk,atau aktifitas baru, restruktur perusahaan, operasi di luarnegeri, pernyataan akuntansi.
Penilaian risiko: jejak transaksi dapat tersedia hanya untuk periode waktu yang pendek, bukti dokumentasi yang dikurangi mengenai kinerja pengendalian, file&catatan biasanya tidak dapat dibaca tanpa sebuah komputer

9. Informasi dan Komunikasi : metode2 dan catatan2 yang diciptakan untuk mengidetifikasi, mengumpulkan ,menganalisi, mengklasifikasi, mencatat, dan melaporkan transaksi entitas untuk memelihara akuntabilitas dari aktiva2 dan kewajiban2 yang berhubungan.
Faktor sistem akuntansi adl pada transaksi : sistem akuntansi yang efektif seharusnya menghasilkan penanganan trasaksi dengan suatu cara yang mencegah salah saji dalam asersi lap.keu manajemen, sistem seharusnya menyediakan suatu jejak audit/ transaksi yang lengkap.
Faktor teknologi yang penting : transaksi dapat dimulai dengan komputer, jejak audit dapat dalam bentuk  elektronik, bagaimana data dikonversi dari dokumen sumber ke dalam bentuk mesin.

10. Aktifitas pengendalian : kebijakan dan prosedur yang membantu memastikan bahwa perintah manajemen telah dilaksanakan.

Kategori aktifitas yang relevan dengan audit lap.keu :

@pemisahan tugas

@ Pengendalian pemrosesan informasi > Pengendalian umum :

(1)Pengendalian organisai& operasi,

(2)Pengendalian pengembangan sistem dan dokumentasi,

(3) Pengendalian perangkat keras dan sistem perangkat lunak,

(4)Pengendalian akses,

(5)Pengendalian data dan prosedur.> Pengendalian aplikasi: (1) pengendalian input,(2)pengendalian pemrosesan,(3)pengendalian output,

@ pengendalian fisik dan

@ review kerja.

8. Pemantauan : proses menilai kualitas kinerja pengendalian intern pada suatu waktu,-penilaian rancangan dan pengeoperasian pengendalian dasar waktu dan mengambil tindakan perbaikan yang diperlukan.
Dapat muncul melalui; aktifitas yang berkelanjutan dan evaluasi yang terpisah.
Dapat meliputi masukan dari : sumber sistem seperti manajemen dan auditor internal, sumber eksternal seperti konsumen, pemasok, pembuat aturan, dan auditor ekdternal.
Pengendalian aplikasi : masuka ,pemrosesan , dan keluaran.Teknologi informasi dapat dimonitor dengan cara yang sama dengan pengendalian intern lainnya.

9. Pemahaman mengenai pengendalian intern melibatkan prosedur-prosedur untuk:
 @memahami rancangan kebijakan dan prosedur yang berhubungan dengan setiap komponen pengendalian intern > -memahami lingkungan pengendalian, memahami penilaian risiko, memahami informasi & komunikasi,memahami aktifitas pengendalian dan memahami pemantauan,
@ menetukan apakah kebijakan dan prosedur telah ditempatkan dalam operasi.

Prosedur untuk memperoleh suatu pemahaman :* review pengalaman masa lalu dengan klien,
*mengajukan pertanyaan kepada manajemen, pengawas, dan staf personel yang tepat,
* memeriksa dokumen dan catatan,* mengamati aktivitas dan operasi entitas.

MATERIALITAS, RISIKO, DAN STRATEGI AUDIT PENDAHULUAN

AUDIT BAB 8 : MATERIALITAS, RISIKO, DAN STRATEGI AUDIT PENDAHULUAN

  1. Materialitas ; Besarnya nilai yang dihilangkan/ salah saji informasi akuntansi, yang dilihat dari keadan yang melingkupi, dapat mengakibatkan perubahan/ pengaruh terhadap pertimbangan orang yang meletakkan kepercayaan pada informasi tersebut karena adanya penghilangan/ salah saji itu.

2 hal yang dipertimbangkan oleh auditor berkaitan dengan materialitas; (1) Keadaan yang berkaitan dengan entitas,dan (2) keburuhan inforamsi pihak yang akan meletakkan kepercayaan atas lap.keuangan auditan.

  1. 2.      Pertimbangan Awal Tentang Materialitas ;

Auditor menggunakan 2 cara dalam menerapkan materialitas; (1) pada saat perencanaan audit,dan (2) pada saat menegvaluasi bukti audit dalam pelaksanaan audit.
Penetuan materialitas dapat berbeda dengan tingkat materialitas yg digunakan pada saat pengambilan kesimpulan audit dan dalam mengevaluasi tmuan audit karena keadaan yang melingkupi berubah dan informasi tambahan tentangklien yang diperoleh saat audit berlangsung.

  1. Materialitas Pada Tingkat Laporan Keuangan; salah saji agregat min dalam suatu lap.keu yang cukup penting untuk mencegah lap.disajikan secaea wajar sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum.*Lap.keuangan mengandung salah saji material jika lap.tersebut berisi kekeliruan/ ketidakberesan yang dampaknya secara individual/ gabungan.
    *Salah saji dapt terjadi sebagai akibat penerapan secara keliru prinsip akuntansi berterima umum, penyimpangan dari fakta/ penghilangab informasi yang diperlukan
  2. Contoh Materialitas Pada Tingkat Lap.Keuangan ;

* Lap.keu dipandang mengandung salah saji material jika terdapat salah saji :

- 5% sampai 10% dari laba sebelum pajak.

- ½ % sampai 1% dari total aktiva.

-1% dari passiva.

-  ½ % sampai 1 % dari pendapatan bruto.

  1. Materialitas Pada Tingkat Saldo Akun; salah saji minimun yang mungkin terdapat dalam saldo akun yang dipandang sebagai salah saji material.*Konsep materialitas pada tingkat saldo akun tidak boleh dikacaukan dengan istilah saldo akun material.
    *Saldo Akun Material; besarnya saldo akun yang tercatat, sedankan konsep materialitas berkaitan dengan jumlah salah saji yang dapat mempengarhi keputusan pemakai informasi keuangan.
  2. Pengalokasian Materialitas Lap.Keuangan Ke Akun ;

*Bila dalam pertimabangan awal auditor tentang materialitas lap.keu dikuantifikasikan, penaksiran awal untuk setiap aku dapat diperoleh dengan mengalokasikan materialitas lap.keu ke akn secara individual.*Pengalokaisan dapat dilakukan baik untuk akun neraca / akun L/R.* Karena salah saji laba-rugi mempengaruhi neraca dan akun neraca lebih sedikit, banyak auditor yang melakukan alokasi atas dasar akun neraca.

  1. Hubungan Antara Materialitas Dengan Bukti Audit; *Materialitas merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi petimbangan auditor tentang kecukupan bukti audit.*Semakin rendah tingkat materialitas, semakin besar jumlah bukti yang diperlukan.
  2. Risiko Audit adalah risko yang terjadi dalam hal auditor tanpa disadari, tidak memodifikasi pendapatnya sebagaimana mestinya atas suatu lap.keu yang mengandung salah saji material.
  3. Unsur Risiko Audit;

@ Risiko Bawaan ; kerentanan suatu saldo akun/ golongan transaksi terhadap suatu salah saji material dengan asumsi bahwa tidak terdapat kebijakan dan prosedur struktur pengendalian intern yang terkait.

@ Risiko Pengendalian; risko tejadinya salah saji material dalam suatu asersi yang tidak dapat dicegah/ didektesi secara tepat waktu oleh pengendalian intern entitas.Risiko pengendalian tertentu akan selalu ada karena keterbatasan dalam setiap pengendalian intern.
@ Risiko Deteksi ; risko sebagai akibat auditor tidak dapat mendektesi salah saji material yang terdapat dalam suatu asersi.

  1. Penggunaan Informasi Risiko Audit ; * Taksiran risiko audit pada tahap perencanaan audit dapat digunakan oleh auditor untuk menerapkan jumlah bukti audi yang akan diperiksa untuk membuktikan kewajaran penyajian saldo akun tertentu.

*untuk itu , auditor menetukan risiko deteksi darii formula risiko audit berikut ini;
Risiko Audit Individual = Risiko Bawaan x Risiko Pengendalian x Risko Deteksi

  1. Hubungan Antara Risiko Audit Dengan Bukti Audit ; semakin rendah tingkat risiko audit yang ingin dicapai, semakin besar jumlah bukti yang diperlukan.
  2. 12.  Strategi Audit Pendahuluan;

*Komponen Stategi Audit: (1)Tingkat risiko bawaan yang dinilai,(2) Tingkat risko pengendalian yang direncanakan untuk dinilai dengan mempertimbangkan luas pemahaman pengendalian intern dan pelaksanaan pengujian pengendalian,(3)Tingkat risiko prosedur analitis yang direncanakan dengan petimbangan pemahaman tentang bisnis&industri yang diperoleh dan pelaksanaan prosedur analitis mengenai penyajian suatu asersi ,(4) Tingkat pegujian yang direncanakan,apabila dikombinasikan dg prosedur lain mengurangi risiko audit hingga tingkat rendah yang sesuai.

*Suatu Pendekatan Subtantif Utama dengan Penekanan terhadap Pengujian Terinci
*Suatu Tingkat Risiko Pengendalian yang Dinilai Lebih Rendah

*Pendekatan Subtantif Utama yang Menekan pada Prosedur Analitis

*Penekanan pada Risiko Bawaan dan Prosedur Analitis.

MODERN AUDITING

AUDIT BAB 7:

MODERN AUDITING

  1. Tahap- tahap audit atas Lap.Keuangan;
    (1) Penerimaan perikatan audit;
    (2) Perencanaan audit;
    (3) Pelaksanaan pengujian audit;
    (4) Pelaporan audit.
  2.  Tahap- tahap penerimaan perikatan audit ;
    (1) Mengevaluasi intregritas manajemen;
    (2) Mengidentifikasi kondisi khusus dan risiko luar biasa;
    (3) Menetukan kompetensi auditor untuk melaksanakan audit;
    (4) Mengevaluasi independensi auditor;
    (5) Menetukan kemampuan auditor dalam menggunakan kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama;
    (6) Membuat surat peikatan audit.
  3.  Evaluasi terhadap integritas manajemen ;
    Melakukan komunikasi dengan auditor pendahulu, Meminta keterangan kepada pihak ketiga, Melakukan review terhadap pengalaman auditor di masa lalu dalam berhubungan denagn klien yang bersangkutan.

@ Identifikasi kondisi khusus dan risiko luar biasa ;
(1) Mengidentifikasi pemakai lap.keuangan;
(2) Mendapatkan informasi tentang stabilitas keuangan dan legal calon klien di masa datang;
(3) Mengevaluasi kemungkina dapat atau tidaknya lap.keuangan calon klien diaudit.

@ Penentuan kompetensi auditor untuk melaksanakan audit

*Standar umum yang pertama berbungyi sebagai berikut : “Audit harus dilakukan oleh seorang atau lebih yang memiliki keahlian dan pelatihan teknis cukup sebagai auditor ”.* Mengidentifikasi anggota kunci tim audit dan *Mempetimbangkan perlunya mencari bantuan dari spesialis dalam pelaksanaan audit.

@  Evaluasi Independen Auditor

- Standar umum yang kedua berbunyi sebagai berikut; “ Dalam semua hal yang berhubungan dengan independensi dalam sikap mental harus dipertahankan oleh audit
– hubungan keuangan dengan klian,
– Kedudukan dalam perusahaan,
– Keterlibatan dalam usaha yang tidak sesuai dan tidak konsisten,
– Pelaksanaan jasa lain untuk klian audit,
– Hubungan keluarga dan pribadi,
– Imbalan atas jasa profesional.

@ Penetuan kompentensi dalam menggunakan kemahiran profesional
– Standar umum yang ketiga bebunyi; “ Dalam pelaksanaan audit dan penyusuna laporannya, auditor wajib menggunakan kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama ”
– Penentuan waktu perikatan ,
– Pertimbangan jadwal pekerjaan laporan,
– Pemanfaatan personal klien

  1. Membuat surat perikatan audit oleh auditor untuk klien nya dimaksudkan untuk mendokumentasikan dan menegaskan; penerimaan auditor atas penunjukan oleh klien, tujuan dan lingkup audit, lingkup tanggungjawab yang dipikul oleh audir bagi kliennya, kesepakatan tentang reproduksi lap.keuangan auditan, bentuk lap.keuangan yang akan diterbitka oleh klien.
    5.     
    Perencanaan Audit
    (1) Memahami bisnis dan industri klien,
    (2) Melaksankan preosedur analitik,
    (3) Mempertimbangkan tingkat materialitas awal,
    (4) Mempertimbangkan risiko bawaan,
    (5) Mempertimbangkan berbagai faktor yang berpengaruh tehadap saldo awal, jika penugasan audit merupakan tahun pertama,
    (6)Mempertimbangkan strategi audit awal terhadap asersi signifikan,
    (7) Mereview informasi yang behubungan .

@ Mereview bisnis dan industri klien : Mereview kertas kerja audit tahun sebelumnya, Mereview data industri dan bisnis, Mengunjungi kantor dan pabrik klien, Meminta keterangan kepaa komite audit, Meminta keterangan kepada manajemen, Menetukan adanya pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa dengan klien, Mempertimbangkan dampak pernyataan standar akuntansi dan pernyataan standar suditing.

  1. Melaksanakan Prosedur Analitik; meliputi perbandingan jumlah2 yang tercatat/ ratio yang dihitung dari jumlah2 yang tercatat dengan harapan yang dikembangkan oleh auditor.

@ Tujuan prosedur Analitik ->
(1) Meningkatkan pemahaman auditor atas usaha klien dan transaksi atau peristiwa  yang terjadi sejak tanggal audit terakhir,
(2) Mengidentifikasi bidang yang kemungkinan memcerminkan risiko tertentu yang bersangkutan dg audit.

@ Prisedur Analitik dapat mengungkapkan -> peristiwa / transaksi yang tidak biasa dan perubahan akuntansi.

@ Tahap2 Prosedur Analitik ->
(1) Mengidentifikasi perhitungan/ perbandingan yang harus dibuat,
(2) Mengembangkan harapan,
(3) Melaksanakan perhitungan/ perbandingan,
(4) Menganalisis data dan mengidentifikasi perbedaan signifikan,
(5) Menyelidiki perbedaan signifikan yang tidak terduga dan mengevaluasi perbedaan tersebut,
(6) Menetukan dampak hasil prosedur analitik.

@ Materialistas awal pada tingkat lap.keuangan perlu ditetapkan oleh auditor karena pendapatan auditor atas kewajaran lap.keuangan siterapkan pada lap.keuangan sebagai keseluruhan.

  1. 7.      Memperoleh Pemahaman tentang bisnis dan indutri klien

@ Terdapat beberapa aspek kritis dari siklus bisnis yang penting bagi auditor untuk dipahami:
(1) Manajemen, tujuan manajemen, dan sumberdaya2 organisasi,
(2) Produk dan jasa, pasar, pelanggan, dan persaingan entitas,
(3) Prose inti dan siklus operasional entitas,
(4) Bagaimana prose inti menghasilkan pertumbuhan, laba, aruskas, dan nilai,
(5) Keputusan  investasi dan pembiayaan entitas.

@andikapuspitasari.wordpress.com

AUDIT BAB 6 : ” BUKTI AUDIT,TUJUAN AUDIT, PROGRAM AUDIT,& KERTAS KERJA

AUDIT BAB 6 : BUKTI AUDIT, TUJUAN AUDIT, PROGRAM AUDIT, DAN KERTAS KERJA

  1. 1.       Audit TOP-DOWn Vs Audit BOTTOM-UP

Audit top-down; Menevaluasi bukti tentang lap.keuangan yang diharapkan dari pengetahuan tentang entitas, bisnis, dan industrinya.

Audit bottom-up; Mengevaluasi bukti yang mendukung transaksi dan akumulasi dalam lap.keuangan.

  1. 4 Pilihan penting penting yang berkaitan dengan bukti audit;
    (1)  bukti apa yang akan diperoleh(sifat),
    (2) bilamana akan memperoleh bukti (saat),
    (3) berapa banyak bukti yang akan diperoleh (luas), dan
    (4) siapa yang akan ditugaskan untuk memperoleh bukti (penetapan staf audit).
  2. Asersi manajemen dalam Lap.keuangan;
    (1) Keberadaan/ keterjadian,
    (2) Kelengkapan,
    (3) Hak dan Kewajiban,
    (4)Penilaian atau alokasi,
    (5) Penyajian dan pengungkapan.
  3. Bukti audit yang mendukung lap.keu terdiri dari;
    (1) data akuntansi yang mendasari =>semuanya tegplong sebagai bukti yang mendukung lap.keu(jurnal, buku besar, kertas kerja, rekonsiliasi),
    (2) informasi penguat yang tersedia bagi auditor =>guna mendukung data akun yang mendasari(bukti analis,bk.dokumentasi,bk.elektronik,bk.matematis,konfirmasi,bk.fisik,representasi tertulis, bk. Lisan)
  4. Prosedur Audit; metode atua teknik unuk mengumpulkan dan mengevaluasi bahan bukti yg mencukupi dan kompeten
    .=>10 prosedur audit; (1) Prosedur analitis
    ,(2) Inspeksi
    ,(3) Konfirmasi,
    (4) Permintaan keterngan,
    (5) Perhitungan,
    (6) Penelusuran,
    (7) Pemeriksaan bukti pendukung,
    (8) Pengamatan,
    (9) Pelaksanaan ulang,
    (10) Teknik audit berbantuan komputer.
  5. Program Audit; prosedur audit yang diyakini oleh auditor merupakan hal yang penting untuk mencapai tujuan audit. => maksud program audit adl untuk mengatur secara sistematis prosedur audit yang akan dilaksanakan selama audit berlangsung.Auditor menetukan tujuan mengembangkan tujuan audit spesifik yg telah dikembangkan berdasarkan asersi audit ketika mengembangkan program audit.
  6. Kertas Kerja memberikan; dukungan utama bagi lap.audit, cara untuk melakukan koordinasi dan supervisi audit, bukti bahwa audit dilaksanakan sesuai dengan GAAS.
    Jenis kertas kerja;
    (1) kertas kerja neraca saldo=>mjd penghubung antara akun buku besar klien dan item yg dilaporkan dlm lap.keu,memberikan pengendalian seluruh kertas kerja individual,
    (2) skedul dan analisi
    (3), memoranda audit dan dokumentasi informasi penguat, dan
    (4) ayat jurnal penyesuaian dan reklasifikasi.
  7. Catatan elektronikmenggantikan bukti dokumenter,auditor perlu mempertimbangkan implikasinya terhadap audit.Auditor harus mempertimbangkan apakah pratik klien tsb berpengaruh scr material thdp saldo akun dan golongan transaksi, serta menilai akibat implikasi tsb tdhp sifat, saat, dan luasnya prosedur audit srta penetapan staf audit.
  8. Menyusun kertas kerja;
    (1) Judul(heading),
    (2) Nomor indeks,
    (3) Referensi silang,
    (4)Tanda koreksi(tick marks),
    (5) tanda tangan dan tanggal.
  9. Me-review pengaruh pemrosesan data elektronik pada petimbangan profesional dalam kaitannya dengan perncanaan serta pengumpulan bukti audit.=>pengarsipan kertas kerja(file permanen & file tahun tahunan) => kepemilikan dan penyimpanan kertas kerja(kertas kerja menjadi milik kantor akuntan bukan klien/pribadi auditor,tapi kantor akuntan masih tunduk pada aturan kode etik profesi AICPA. Penyimpana kertas kerja terletak pad atanga auditor, diman auditor bertanggungjawab untuk menyimpannya dengan aman.

    @andikapuspitasari.wordpress.com

 

AUDIT BAB 5 :” GAMBARAN UMUM PROSES AUDIT “

AUDIT BAB 5: “ GAMBARAN UMUM PROSES AUDIT

  1. 7 langkah pokok yang diperlukan dalam perencanaan dan pelaksanaan audit lap.keuangan:
    M
    emperoleh pemahaman tentang bisnis dan industri, mengidentifikasi asersi lap.keuangan yang relevan,
    Membuat keputusan tentang jumalh yang material bagi para pengguna lap.keuangan,
    Membuat keputusan tentang komponen risiko audit,
    M
    emperoleh bukti melalui prosedur (prosedur untuk pengendalian intern, Melakukan pengujian pengendalian & melaksanakan pengujian substantif), Menetapka bagaimana menggunakan bukti untuk mendukung suatu pendapat audit(komunikasi kepada klien serta jasa bernilai tambah),
    Mengkomunikasikan temuan-temuan.
  2. Pemahaman auditor atas bisnis dan industri klien sangat penting bagi proses audit karena dengan auditor memperoleh pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang bisnis dan industri klien maka auditor dapat memahami peristiwa2, transaksi2, dan pratik2 yang dapat berpengaruh secara signifikan pada lap.keuangan.
  3. 5 Katagori asersi Lap.keuangan:
    Keberadaan/keterjadian,
    Kelengkapan,
    Hak dan Kewajiban,
    Penilaian/Alokasi,
    Penyajian dan pengungkapan.

Asersi ini penting karena dapat membantu auditor memahami jenis salah saji ptensial yang dapat terjadi dalam lap.keuangan dan dapat membantu auditor mengembangkan perencanaan audit untuk menyampaikan bukti yang berkaitan dg kewajaran lap.keuangan.

  1. Konsep material penting dalam audit atas lap.keungan:
    *Auditor tidak dapat memberikan jaminan bahwa lap.keuangan auditan adl akurat
    *Auditor tidak memeriksa setiap transaksi yg terjadi dlm tahun yg diaudit dan tidak dapat menentukan apakah semua transaksi yg terjadi tlah diakuntasikan secara semestinya ke dalam lap.keungan.
    *Jika auditor harus memeriksa setiap transaksi ia akan memelurkan waktu dan biaya yang jauh melebihi manfaat yang diberikan.
    *
    Tidak mugkin seseorang menyatakan keakuratan lap.keuangan,mengingat bhw lap.keuangan sendiri berisi pendapat estimasi&pertimbangan dlm proses penyusunan.
  2. Risiko Audit Keselutuhan: pada tahap perncanaan auditor harus menetukan risiko keseluruhan yg direncanakan.
    Risiko audit keseluruhan yang direncanakan
    : besarnya risiko yang dapat ditanggung oleh auditor dalam menyatakan bahwa lap.keuangan disajikan secara wajar, padahal kenyataannya lap.keuangan tsb berisi salah saji.

Unsur Risiko Audit:Risiko Bawaan ( risiko yg melekat pd akun tetentu yg sifatnya relatif rumit/complicated, walaupun tanpa ada kebijakan intern), Risiko Pengendalian(kegagalan auditor krn tidak menggunakan prosedur scr optimal),Risiko Deteksi(risiko kegagalan sistem pengendalian internal mendektesi adanya penyimpangan secara dini).

  1. Faktor  yg mempengaruhi kecukupan bukti audit: meterialitas dan risiko, faktor2 ekonomi, ukuran dari karakteristik populasi.Faktor2 yg mempengaruhi kompetensi bukti audit: relevansi, sumber, ketepatan waktu, dan objektifitas.
  2. 3 pengklasifikasian prosedur audit serta tujuan masing2:

*Prosedur untuk memperoleh pemahaman: untuk memperoleh pemahaman tetang bisnis dan industri klien berikut faktor2 yg dapat mempengruhi risiko bawaan pad asersi lap.keuangan.

*Pengujian Pengendalian: untuk memperoleh bukti audit tetang efektifitas rancangan dan operasi kebijakan dan prosedur struktur pengendalian intern.

*Pengujian Substantif: untuk memberikan bukti meliputi bukti tentang kelayakan asersi lap.keuangan klien.

  1. Mengkomunikasikan Temuan-temuan audit dapt dibagi menjadi 3 kategori: (1)Komunikasi tentang lap.keuangan melalui laporan auditor,
    (2)komunikasi lain yang diperlukan dengan manajemen dan
    (3)komunikasi temuan-temuan lain.

    @andikapuspitasari.wordpress.com

AUDIT BAB 4 : “KEWAJIBAN HUKUM AUDITOR”

AUDIT BAB 4: KEWAJIBAN HUKUM AUDITOR

Tanggung Jawab Hukum bagi Auditor:
1. Mendektesi adanya indikasi kecurangan dan melaporkan.(Fraud detection)
2. Mendektesi dan melaporkan adanya ketidakmampuan perusahaan meneruskan usahanya.
3. Mendektesi dan melaporkan adanya potensi salah saji yang material yang akan merugikan publik.

Common Law( Hukum berdasarkan keputusan pengadilan bukan disahkan lehislatif)
Auditor bertanggungjawab ke klien atas pelanggaran kontrak bila:
1. Menerbitkan laporan audit standar tanpa melakukan audit sesuai standar audit (GAAS)
2. Tidak mengirimkan laporan audit standar sesuai batas waktu yang telah disepakati.
3. Melanggar hukum kerahasiaan.
Kewajiban kepada pihak ke 3,dari sisi hukum ada 2 kelompok pihak ke 3,yakni:
1. Pemegang saham utama: namanya telah diketahui oleh auditor sebelum audit dilaksanakan.
2. Pemegang saham lainnya:pihak ke3 yang namanya belum diketahui(kreditor, pmg saham,investor)
*Pada umumnya auditor harus menggunakan kecermatan sebagai pembelaan dalam gugatan pelanggaran kontrak termasuk tuntutan ganti rugi atas kelalaian kontributif(kelalaian yang dibuat klien yang mengakibatkan klien rugi sebagai akibat pelaksanaan kerja klien dibawah standar).Pembelaan berdasarkan kecermatan auditor harus berusaha membuktikan bahwa audit tersebut telah dilaksanakn sesuai dengan standar audit.Kertas Kerja audit merupakan alat bukti yang penting dalam pembelaan.
Meminimalkan Risiko Litigasi:
Menggunakan surat perikatan untuk semua jenis jasa profesional, Melakukan investigasi yang menyeluruh atas lien prospektif, Lebih menekankan mutu jasa dari pada pertumbuhan,  Mematuhi sepenuhnya ketentuan profesional,  Megakui keterbatasan ketentuan profesional, Menetapkan dan menjaga standar yang tinggi atas pengendalian mutu, memperhatikan tindak pencegahan dalam perikatan tentang keterlibatan klien dalam kesulitan keuangan, Mewaspadai resiko audit.

Standar Profesional dan Keputusan Hakim-8
terdapat perbedaan antara AICPA, SEC(Security Exxchange Commissions, dan pengadilan tentang kepentingan relatif Standar Profesional dalam Keputusan Hakim:
1. AICPA:*standar komunikasi diukur sesuai GAAS, para juri (pengadilan dlm hal peradilan) tidak berwenang mempetanyakan kebijaksanaan standar profesional.
2. SEC: *Auditor memiliki kewajiban yg jauh lebih melampaui batas GAAS yg spesifik(kebiasaan profesional untuk berkomunikasi scr efektif ttg informasi yg material, Bilamana GAAS& GAAPtenyata memilikikekurangan. makaSEC akan meminta badan yg berwenag menetapkan standar kinerja yg berarti tanpa kesaksian pakar pada standar profesional.
3. Pengadilan:* Bila profesi telag menetapkan GAAS yg spesifik untuk menghadapi masalah yg muncul, maka tugas profesional dibatasi pada menyesuaikan dg standar, sehingga lap.keuangan dapat meberikan informasi yang wajar&berarti bagi investor, Apabila lap.keuangan yg menyesatkan teryata menimbulkan kerugian, maka pengadilan tidak ragu2 menghukum auditor meski tedapat bukti kuat adanya kesesuaian dengan GAAP&GAAS.
Indikasi ada atau tidaknya kemungkinan unsur pelanggaran hukum:
Transaksi tanpa otoritas, penyelidikan oleh instansi pemerintah, pembayaran dalam jumlah besar untuk jasa yang tidak jelas tujuannya,keterlambatan pengisian SPT pajak.

AUDIT BAB 3 : ” ETIKA PROFESIONAL “

AUDIT Bab 3 : ETIKA PROFESIONAL

  1. Etika umum mendefisinikan apa yang dimaksud dengan baik bagi seseorang/ masyarakat, dan mencoba menetepkan sifat dari kewajiban/ tugas yang harus dilakukan oleh seseorang bagi dirinya sendiri dan sesamanya.
  2. Etika profesional meliputi standar perilaku bagi seseorang profesional yang dirancang untuk tujuan praktis dan idealistik.Kode etik profesional bersifat realistis dan dapat ditegakkan untuk mendorong perilaku yang ideal.
  • CPA(Certified Accountant Public) adl profesi yang diberi wewenang untuk menandatangani laporan audit.
  1. Kode Perilaku Profesional AICPA terdiri dari 2 seksi: Principles (menyatakan ajaran dasar perilaku etika dan memberikan kerangka kerja bagi peraturan-peraturan) dan Rules of Conduct (menetapkan standar minium perilaku yang dapat diterima dalam pelaksanaan layananprofesional).
    Pengumuman sebagai tambahan atas 2 seksi  kode perilaku profesional di atas: Interpretations of The Rules of Conduct (menyediakanpedoman tentang lingkup dan penerapan peraturan2 spesifik) dan Ethics Rulings (menunjukan penerapan Peraturan Perilaku dan Interpretasi pada kondisi nyata tetentu).
  2. Istilah dasar untuk memahami kode etik:

Klien ( Client): setiap orang /entitas selain pegawai anggota CPA yang menugaskan anggota/kantor anggota CPA untuk melakssanakan jasa profesional bagi perorangan/ entitas yang akan menerima jasa profesional tersebut.

Dewan ( Council): dewan yang berada dalam lembaga AICPA.

Kantor Akuntan Publik : bentuk organisasi yang diizinkan melaksanakan pratik akuntan publik sesuai undang2/ peraturan yang memiliki karakteristik sesuai dengan keputusan dewan.

Jasa profesional: semua jasa yang dilaksanakan oleh seorang CPA yang masih berstatus sebagai pemegang CPA.

  1. Enam Prinsip yang terdapat dalam kode etik :

-          Tanggung Jawab :para anggota harus mewujudkan kepekaan dan pertimbangan moral dalam semua aktifitas sebagai profesional.

-          Kepentingan Publik : para CPA harus melakukan tindakn yang medhlukan kepentingan publik, menghargai kepercayaan publik, dan menunjukan komitmen pada profesionalisme.

-          Integritas : para CPA harus melaksanakan semua tanggungjawab profesional dengan integritas tinggi untuk memperluas dan mempertahankan kepercayaan kepada masyarakat.

-          Obyektifitas dan Independensi : para CPA yang berpratik sbg akuntan publik harus bersikap independen dalam kenyataan&penampilan saat melaksanakan audit/jasa atestasi lainnya.

-          Kecermatan/ Keseksamaan :CPA harus mengamati standar teknis dan etika profesi , terus meningkatkan kompentensi & mutu jasa ,melaksanakan tanggung jawab profesional dengan kemampuan terbaik.

-          Lingkup & Sifat Jasa : CPA yang berpratik sbg akuntan publik, harus mematuhi prinsip2 Kode Perilaku dalam menentukan lingkup dan sifat jasa yang diberikan.

  1. Sebagai upaya penegakan Peraturan Perilaku lebih efektif AICPA mengembangkan Program Penegakan Etika Bersama ( Joint Ethics Enforcement Program /JEEP).

AUDIT BAB 2;Audit Lap.Keu dan Tanggung Jawab Auditor

Bab 2 : Audit Laporan Keuangan Dan Tanggung Jawab Auditor

  1. Hubungan antara akuntansi dan auditing dalam proses pelaporan keuangan melibatkan pembagian tanggung jawab dasar antara manajemen entitas dan auditor independennya.
  2. Kebutuhan akan audit laporan keuangan: relevansi dan reliabilitas adalah 2 kualifikasi utama yang membuat informasi akuntansi dapat berguna bagi pengambilan keputusan dan pengguna lap.keuangan melihat 2 hal tersebut telah terpenuhi sebagaimana tercantum dalam lap.auditor independen.
  • Manfaat ekonomi suatu audit : akses ke pasar modal, biaya modal yang lebih rendah, penangguhan inefisiensi dan kecurangan, peningkatan pengendalian dan operasional.
  • Keterbatasan audit lap.keuangan: biaya dan jumlah waktu yang memadai.
  1. Hubungan auditor dengan komite audit, manajemen, dan dewan komite: Manajemen bertanggungjawab atas penyusunan lap.keuangan sesuai GAAP, dan auditor bertanggungjawab untuk menyatakan pendapat atas lap.keuangan berdasarkan audit yang dilaksanakan sesuai GAAS.Komite audit  dapat mejembatani auditor dengan manajemen guna memperoleh informasi untuk keperluan audit.dewan komite memerlukan pengetahuan dan keahlian auditor untuk mengaudit agar perusahaan dapat beroperasi dengan baik.
  2. Organisasi yang menerbitkan standar auditing : AICPA, IIA, GAO
  3. The Ten Generally Acceted Auditing Standards (GAAS) : keahlian&pelatihan teknis yang memadai, independensi dalam sikap menilai, penggunaan&supervisi yang memadai, pemahaman atas struktur pengendalian intern, mendapatkan bukti audit kompeten yang cukup, lap.keuangan disajikan sesuai GAAP, konsistensi dalam penerapan GAAP, pengungkapan informasi yang memadai, dan pernyataan pendapat.
  4. Tanggungjawab penting auditor: Tanggungjawab untuk mendektesi kecurangan,untuk melaporkan kecurangan, untuk mendektesi tindakan hukum yang dilakukan klien,untuk melaporkan tindakan melanggar hukum
  5. Laporan standar auditor : Paragraf pendahuluan, paragraf ruang lingkup dan paragraf pendapat.
  6. Penyimpangan dari laporan standar :
  • Laporan standar mengandung penyimpangan yang material dari GAAP.
  • Auditor tidak mampu mendapatkan bukti kompeten yang cukup berkenaan dengan satu/lebih asersi manajemen sehingga tidak memiliki dasar memadai untuk memberikan pendapat wajar tanpa pengecualian atas lap.keuangan secara keseluruhan.
  1. Jenis pendapat auditor:
  • Pendapat wajar tanpa pengecualian (unqualified opinion)
  • Pendapat wajar tanpa pengecualian dengan bahasa penjelasan

(unqualified opinion report with explanatory language)

  • Pendapat wajar dengan pengecualian (qualified opinion)
  • Pendapat tidak wajar (adverse opinion)
  • Pernyataan tidak memberikan pendapat (disclaimer of opinion)

 

Tag Cloud

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.